ratu atut, banten, ratu atut chosiyah
blog detik Hj. Ratu Atut Chosiyah, SE
Desember 31st, 2011 oleh ratuatut

Ratu Atut Ajak Investor Selain Artha Graha di Jembatan Selat Sunda
Rista Rama Dhany - detikFinance


Jakarta - Pemerintah Provinsi Banten membuka kesempatan bagi investor asing maupun swasta lokal yang berminat masuk dalam proyek Jembatan Selat Sunda (JSS). Bahkan Gubernur Banten Ratu Atut mempersilahkan mitra lain di luar Artha Graha yang berminat pada proyek tersebut.

“Pemda Banten juga sangat terbuka jika ada investor yang masuk dalam pembangunan Jembatan Selat Sunda di luar konsorsium Pemda dan Artha Graha. Baik investor lokal maupun yang asing,” kata Atut saat ditemui disela-sela peresmian PLTU Suralaya, Cilegon, Banten, Rabu (28/12/2011).

Mengenai perkembangan terbaru terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) soal JSS, ia menyambut positif payung hukum tersebut. Meskipun sampai saat ini belum ada permintaan investor yang masuk dalam proyek tersebut.

“Perpres sudah keluar, cuma kita belum ada permintaan investor yang masuk. Tapi kami akan kaji dan putuskan investor siapa yang berminat sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Perpres tersebut,” katanya.

Presiden SBY telah menerbitkan peraturan presiden (Perpres) soal pembangunan Jembatan Selat Sunda. Saat ini pemerintah mulai membuat grand design jembatan yang menghubungkan Jawa dan Sumatera tersebut.

JSS yang akan memiliki panjang 29 Km akan mulai dibangun di 2014. Pemerintah optimistis dapat memulai peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) di akhir 2013.

Jembatan yang akan menjadi salah satu terpanjang di dunia itu diperkirakan menelan investasi hingga lebih dari Rp 100 triliun. Pemerintah saat ini masih terus melakukan kajian untuk pembangunan jembatan tersebut.

Sebelumnya pengusaha Tomy Winata rela merogoh koceknya sebesar US$ 40 juta untuk modal pra-studi pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) sebagai bagian dari konsorsium Pemda Banten, Lampung dan Artha Graha. Meskipun sampai saat ini, ia belum ditunjuk sebagai pihak pembangun jembatan tersebut.

“Saya belum punya hak penyelenggara Jembatan Selat Sunda. Saat ini proyek tersebut ditangani anak usaha Artha Graha yakni Bangungraha Sejahtera Mulia,” ujar Tomy Maret 2011 lalu.

Rista Rama Dhany - detikFinance
(hen/ang)

Nopember 4th, 2011 oleh ratuatut

<img src=\\\”http://ratuatut.blogdetik.com/files/2011/11/atut-ical-padi-300×226.jpg\\\” alt=\\\”ratu atut dan aburizal bakrie dalam panen raya banten\\\” title=\\\”ratu atut dan aburizal bakrie dalam panen raya banten\\\” width=\\\”300\\\” height=\\\”226\\\” class=\\\”alignleft size-medium wp-image-44\\\” />

Kesejahteraan petani Banten terindikasi mengalami peningkatan, dengan terjadinya penguatan daya beli secara signifikan. Hal itu diindikasikan dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2011 sebesar 105,63 atau meningkat 0,17% dibandingkan September yang sebesar 105,45.
Berdasarkan sajian data terbaru dari Biro Pusat Statistik (BPS) Banten, pada awal November lalu, tiga subsektor yang mengalami kenaikan indeks yaitu tanaman pangan naik 0,35% dari 105,72 menjadi 106,08, tanaman perkebunan rakyat naik 0,51% atau naik dari 104,06 menjadi 104,59, dan peternakan naik 0,27% dari 101,02 menjadi 101,29.
Ketua BPS Banten, Nanan Suhandi, menjelaskan NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani.
\\\”NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian yang dihasilkan petani dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP berarti semakin kuat pula tingkat daya beli petani,\\\” tuturnya.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di 4 Kabupaten (Pandeglang, Lebak, Tangerang dan Serang) pada bulan Oktober 2011, NTP Banten mengalami kenaikan sebesar 0,17% dibandingkan bulan September yaitu dari 105,45 menjadi 105,63. Hal ini disebabkan karena laju kenaikan indeks harga yang diterima petani lebih cepat dibandingkan laju kenaikan indeks harga yang dibayar petani.
Indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,37% yaitu dari 141,75 menjadi 142,27. Sedangkan indeks yang dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 0,21% dari 134,42 pada bulan September menjadi 134,69 pada bulan Oktober
2011. Bila melihat NTP per subsektor pada Oktober 2011 ini, dari lima subsektor ternyata tiga subsektor mengalami kenaikan indeks yaitu subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,35%, tanaman perkebunan naik 0,51%, dan peternakan mengalami kenaikan sebesar 0,27%.
Indeks harga yang diterima petani menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Oktober 2011, indeks harga yang diterima petani Banten mengalami kenaikan sebesar 0,37% dibandingkan September, yaitu dari 141,75 menjadi 142,27. Dari lima subsektor tiga subsektor mengalami kenaikan indeks yaitu tanaman pangan naik 0.54%, perkebunan naik 0,62%, dan peternakan naik 0,50%.
Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan naiknya harga cabe rawit 16,41%, kopi biji kering (1,96%), kerbau 1,02%, kepiting laut 11,63% serta yang lainnya. Sedangkan subsektor Tanaman Pangan/Padi dan Palawija (NTP-P) pada bulan Oktober mengalami kenaikan indeks sebesar 0,35% dari 105,72 menjadi 106,08.
Hal ini terjadi karena laju kenaikan indeks harga yang diterima petani (0,54%) lebih cepat dibanding laju kenaikan indeks harga yang dibayar petani (0,20%). Kenaikan indeks harga yang diterima petani Banten pada subsektor tanaman pangan terjadi karena adanya kenaikan indeks pada subkelompok padi sebesar 0,59% dan indeks subkelompok palawija sebesar 0,20%. Kenaikan indeks subkelompok padi dipengaruhi naiknya harga gabah kering giling sebesar 0,59%, sedang kenaikan indeks palawija disebabkan naiknya harga ketela rambat 3,48%, dan ketela pohon 0,54%.
Di sisi lain kenaikan pada indeks dibayar petani karena pengaruh naiknya Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,20% dan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik sebesar 0,20%. Untuk BPPBM kenaikan indeks ini dipengaruhi kenaikan tiga subkelompok yaitu bibit 0,27%, obat-obatan dan pupuk 0,58%, dan penambahan barang modal 0,40%.
Lima komoditi yang menyebabkan kenaikan indeks pada subkelompok BPPBM adalah kenaikan harga urea 2,16%, cangkul 1,70%, arit/sabit 1,14%, dan sewa traktor tangan 0,76%. Sedangkan komoditi yang menghambat kenaikan indeks BPPBM adalah penurunan harga TSP 0,98%, golok 0,55% dan oli 0,09%.

Harga Gabah
Berdasarkan observasi sebanyak 35 transaksi gabah di tiga kabupaten sentra pertanian (Pandeglang, Serang dan Lebak), rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Oktober 2011 dibandingkan keadaan September untuk dua kualitas mengalami kenaikan. yaitu Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 8,64 persen, dan Gabah Kualitas Rendah naik sebesar 4,49 persen.
Pemantauan harga ini dilakukan melalui pencacahan rutin bulanan. Observasi dilakukan terhadap kelompok kualitas yaitu: GKG 15 observasi (42,86%), GKP 12 observasi (34,29%), dan gabah kualitas rendah sebanyak 8 observasi (22,86%).
Harga tertinggi di tingkat petani sebesar Rp.4.600,- per kg dan di tingkat penggilingan
sebesar Rp.4.650,- untuk kualitas GKG varietas Ciherang, berada di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.
Untuk rata – rata komponen mutu yang terdiri dari kadar air (KA) dan kadar hampa/kotoran (KH) , yaitu untuk GKG KA nya sebesar 11,94 persen dan KH-nya sebesar 2,70 persen. Untuk gabah dengan kualitas GKP KA nya sebesar 14,16 persen dan KH nya 7,53 persen sedangkan untuk Kualitas Rendah KA nya 14,73 persen dan KH 12,55 persen.
Rata-rata harga gabah kualitas kering giling (GKG) di Provinsi Banten sebesar Rp.4.203,- per kg di tingkat penggilingan atau naik 8,64% dan di tingkat petani sebesar Rp. 4.118,- per kg atau naik 8,14%. Sedangkan untuk gabah kualitas rendah di tingkat penggilingan mengalami kenaikan rata-rata harga sebesar 4,49% atau naik dari Rp. 3.554,- menjadi Rp. 3.721,- per kg dan ditingkat petani mengalami kenaikan rata-rata harga 4,83.

September 3rd, 2011 oleh ratuatut

pendamping-pkhSerang - Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, mengatakan, rekonsiliasi antar-elit politik dan pejabat negara harus dilakukan dengan perbuatan yang nyata dan bukan hanya dengan ucapan saja.

“Dengan momentum Idul Fitri kita kembali ke fitrah dan saling memaafkan untuk memberikan contoh baik kepada masyarakat,” kata Atut saat menggelar “silaturahim terbuka” di Serang, Rabu (31/8/2011).

Ia mengatakan, rekonsiliasi dilaksanakan dengan perbuatan secara nyata, sikap, perilaku, moral dan tidak saling hujat menghujat sesama anak bangsa.

Perbuatan tersebut harus dilakukan para elit politik setiap saat dan bukan hanya omong belaka.

Apalagi, saat ini umat Islam merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Momentum Idul Fitri sangat tepat untuk memulai perbuatan baik dan benar tanpa saling bertikai maupun hujat menghujat.

“Jika para elit politik melakukan perbuatan baik dan benar tentu negara akan damai sentosa juga memberikan contoh yang baik kepada masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan, momentum Lebaran bisa dijadikan rekonsiliasi para elit politik untuk memperjuangkan kepentingan bangsa yang besar dengan tanpa kepentingan golongan tertentu.

Selama ini, kata dia, rekonsiliasi antar-elit politik cukup baik dan ke depan terus semakin damai tanpa pertikaian.

Karena itu, silaturahim para elit politik yang dilakukan setiap Idul Fitri bisa mempererat persatuan dan kesatuan bangsa dengan damai.

Apabila negara damai dan bersatu tanpa perselisihan dipastikan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi rakyatnya sendiri.

Atut menambahkan, pihaknya pada Idul Fitri 1432 Hijriah meminta maaf kepada seluruh masyarakat, pejabat daerah maupun pengurus partai politik di wilayah Banten bila ada kesalahan. “Manusia tidak lepas dengan kesalahan dan kekhilafan,” ujarnya. (MSR/Z002/K004) (ant)

Juli 1st, 2011 oleh ratuatut

tetap kunjungi www.ratuatut.com

SERANG - Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah mengucapkan janjinya untuk melanjutkan perjuangan Abah untuk mensejahterakan Banten khususnya dan bangsa Indonesia, sebagaimana diajarkan almarhum ayahandanya tercinta, Prof. Dr. TB. Chasan Sochib. TB. Chasan Sochib meninggal dunia pada Kamis 30 Mei 2011, pukul 03.55 WIB di Rumah Sakit Sari Asih, Kota Serang, akibat penyakit yang dideritanya. Kepergian tokoh paling berpengaruh di Banten yang akrab dipanggil Abah ini, merupakan kehilangan besar bagi masyarakat kota para jawara itu. Ribuan masyarakat Banten berdatangan dan mengantar Almarhum dengan tahlil.

Putri kesayangannya, Ratu Atut Chosiyah, tak kuasa membendung air mata kesedihan pada awal sambutannya dalam upacara pemakanan keluarga di Pesanggrahan, Kabupaten Serang. Ribuan pelayat yang hadir di pemakaman pun tenggelam dalam duka yang mendalam.

“Kami anak-anaknya telah mendapatkan banyak nasehat dan pelajaran berharga dari almarhum ayahanda kami tercinta. Dan, kami akan melanjutkan pengabdiannya kepada masyarakat, daerah dan bangsa,” tutur Ratu Atut, sambil berulang kali mengusap air matanya.

Sebagai putra daerah, jasa Tb Chasan Sochib terhadap pembangunan Provinsi Banten sangat besar. Salah satu yang terbesar adalah perannya sebagai salah satu tokoh pendiri Provinsi Banten. Beliau adalah tokoh yang mampu mengangkat budaya Banten tentang pendekar maupun pencetus organisasi profesi.

“Secara pribadi saya orang paling dekat dengan almarhum. Beliau adalah orang yang paling besar jasanya untuk pembangunan Banten,” kata salah satu pendiri Pembentukan Provinsi Banten, H Embay Mulya Syarif. Ia mengharapkan, akan bermunculan tokoh-tokoh Banten selanjutnya yang kuat dan peduli dengan pembangunan Banten.

Ribuan masyarakat Banten memadati rumah duka almarhum TB Chasan Sochib di kawasan Ciceri, Kota Serang, saat dishalatkan di Masjid Al-Bantani di kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten dan saat pemakaman di Pesanggrahan, Ciomas. Mereka yang datang bukan saja dari kalangan masyarakat biasa, namun juga sejumlah pejabat.
Chasan Sochib lahir di Desa Kadu Bereum, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, tahun 1930. Almarhum merupakan putra pasangan H TB Sochib dan Hj Ratu Rafiah. Semasa hidupnya, almarhum adalah pendiri dan Ketua Umum Pengurus Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI) dari tahun 1971 sampai sekarang, Ketua Umum DPP Satkar Ulama Indonesia 2022-2015, pendiri Kadin dan Gapensi Provinsi Banten 1977, pendiri Untirta Banten 1981.

Selain itu, almarhum merupakan Ketua Umum DHD’45 Provinsi Banten, pendiri dan Pembina Ikatan Qori dan Qoriah Banten 1985, Pendiri Museum Krakatau di Carita, Pandeglang 1987, Penasehat Himpunan Keluarga Sulawesi Selatan (HKSS) 1980 sampai sekarang.

Chasan Sochib juga sebagai pendiri Koperasi Wasta Karya 1987, Pendiri Museum Banten Lama 1988, Ketua Yayangan Pembangunan Banten 1990 sampai sekarang, anggota Dewan Pertimbangan Gapensi Pusat 1990 sampai sekarang.

Usai dishalatkan, jenazah langsung diserahkan ke negara, oleh perwakilan keluarga yang juga Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah kemudian menyerahkan ke Korem 063 Maulana Yusuf untuk dilakukan prosesi secara militer. Setelah kurang lebih 15 menit proses penyerahan dan upacara militer, pukul 09:45 WIB, jenazah langsung dibawa ke peristirahatan terakahirnya di Pemakaman Ratu, Desa Pesangrahan, Kampung Lemburjero, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten.

Chasan Sochib dikuburkan di sisi makam ayahnya, Tubagus Sochib dan ibunya, Ratu Rofiah. Kuburannya juga berdekatan dengan makam anak angkatnya, Ratno Timoer, aktor era tahun 70-an yang terkenal sebagai pemeran pendekat buta, Badra Mandrawata, Si Buta dari Goa Hantu.

Prosesi pemakaman dilakukan secara militer dipimpin Dandim Serang, Letnan Kolonel Wahyu Widodo. Ratusan warga Banten memadati lokasi pemakaman untuk melepas kepergian almarhum. Sejumlah kepala daerah dan pejabat teras di lingkungan Provinsi Banten tampak hadir dalam upacara pemakaman. Hadir juga sejumlah tokoh nasional seperti Ketua Penasehat Partai Golkar, Akbar Tanjung, dan mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiqurrahman Ruqi.***

Juni 29th, 2011 oleh ratuatut

SERANG - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Bintang Reformasi (PBR), Bursa Zarnubi mengatakan partainya mengalihkan dukungan dari Jazuli Juwaeni kandidat yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kepada incumbent Rt Atut Chosiyah dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Banten yang akan dihelat pada Oktober mendatang.

Sikap politik PBR itu, kata orang nomor satu di partai berlambang bintang ini, akan mengikuti dukungan yang diambil Partai Amanat Nasional (PAN). Untuk diketahui, PAN dipastikan mendukung pencalonan Atut dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten untuk Calon Gubernur (Cagub). Selain PBR  dan PAN, Atut juga didukung beberapa partai besar lainnya, seperti Partai Golkar dan PDIP.

”Dulu kita memang dukung Jajuli Juwaeni, tapi belakangan ini komunikasi dengan pihak mereka (PKS, Red) terputus,” terangnya usai menghadiri Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) DPW PBR Provinsi Banten. Dia juga mengatakan, PBR saat ini berkesepakat bergabung di bawah bendera PAN. Tentunya, sikap PBR akan mengikuti jejak induknya dalam mengusung kandidat Pilgub Banten.

”Memang kesepakatan bergabungnya PBR dengan PAN tidak terkait sikap dalam Pilgub Banten. Namun tidak etis jika nama Cagub Banten yang diusung berbeda. Jadi rekomendasi DPP PBR yang dikeluarkan akhirnya berubah terkait pencalonan Cagub Banten ini,” ungkapnya juga. Apalagi, sejak dikeluarkan rekomendasi itu tidak ada lagi komunikasi dengan pengurus DPW PKS Provinsi Banten maupun dengan Jazuli Juwaini.

Apalagi, belakangan ini ada perubahan aspirasi dikalangan kader dan pengurus DPW PBR Provinsi Banten yang menghendaki partainya mendukung Atut sebagaimana yang pernah dilakukan partai itu pada Pilgub Banten 2006 lalu. ”Dukungan itu tidak harus kaku. Kami bisa melihat perkembangan ke depan. Jadi dukungan berubah dari Jazuli ke Rt Atut Chosiyah atau calon yang lain hal yang biasa,” tegasnya juga.

Sementara itu, Sekretaris DPW PBR Provinsi Banten, Sabrawijaya mengatakan terkait keluarnya rekomendasi pengalihan dukungan dari Jajuli Juwaini yang didukung  PKS menjadi kepada Rt Atut Chosiyah itu merupakan sikap resmi DPP PBR. ”Kalau ada perkembangan lain dalam dukungan itu wajar. Namanya politik setiap saat bisa berubah,” terangnya.

Apalagi, ujarnya juga, aspirasi kader PBR di Provinsi Banten memang bervariasi. Ada yang ingin ke incumbent Rt Atut Chosiyah, ke Wahidin Halim dan ada juga yang ke Jazuli Juwaini. Tapi kemungkinan besar aspirasi PBR memang mengikuti sikap PAN. ”Kuncinya ada di PAN dan DPP PBR. Jika sudah ada keputusan DPP PBR tentang dukungan kepada Atut maka kami di DPW PBR Banten tinggal mengikuti saja,” cetusnya.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya DPP PBR telah mengeluarkan rekomendasi terkait dukungan dalam Pilgub Banten. DPP PBR merekomendasikan Cagub Banten yang diusung PBR yakni Jazuli Juwaini yang dituangkan dalam Surat Keputusan DPP PBR No.0810/A/DPP-PBR/IV/2011 tentang Pilgub Banten yang dikeluarkan dan ditandatangani pada 26 April 2011 lalu.

Untuk diketahui, Jajuli Juwaeni selain didukung PKS ada kemungkinan juga diusung PPP. Kedua partai berasas Islam itu bergabung membentuk koalisi Keumatan guna memenangkan Pilgub Banten. Sebelum maju menjadi Cagub Banten yang diusung partainya, Jajuli Juwaini yang juga anggota DPR RI pernah gagal saat bertarung memperebutkan kursi Bupati Tangerang pada 2009 lalu. (bud)

Juni 20th, 2011 oleh ratuatut

SERPONG—Inilah salah satu cara yang dilakukan Pemprov Banten guna menekan angka kemiskinan. Melalui program pembudidayaan rumput laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten, satu pekan yang lalu petani rumput laut sudah mulai merasakan hasilnya.

Bertempat di Desa Cigorondong, Kecamatan Sumur, Pandeglang, digelar panen raya rumput laut. Budidaya rumput laut di areal seluas 75 hektar di sepanjang pantai Desa Cigorondong ini mampu menghasilkan 80 ton setiap kali panen. Panennya 45 hari sekali.

Potensi rumput laut dengan pasar yang terbuka di wilayah Serang dan Jakarta membuat warga di sana makin antusias. Terlebih lagi rumput laut jenis cutton dan jumbu cukup baik untuk dikonsumsi maupun bahan kosmetik dan lain-lain.

Budidaya rumput laut selain harganya menjanjikan, juga pengelolaannya terbilang sederhana. Kebutuhan modalnya pun relatif kecil.

”Budidaya rumput laut di Desa Cigorondong sudah berjalan sejak tahun 2006. Dengan bantuan wirausaha dan pemerintah, panen kami jauh lebih banyak, 80 ton setiap 45 hari sekali,” ujar arsaca, petugas Unit Pelayanan Pengembangan (UPP), di sela-sela kegiatan acara panen raya rumput laut.

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan program mengoptimalkan budidaya rumput laut, bisa menggenjot pendapatan asli daerah (PAD). Sehingga, penerimaan dari sektor kelautan dan perikanan setiap tahun bisa terus meningkat.

”Menurut Ibu, budidaya rumput laut memiliki  prospek cukup bagus. Karena permintaan pasarnya cukup tinggi dan masih terbuka luas. Rumput laut merupakan bahan baku untuk aneka jenis minuman, makanan bahkan industri,” tambah Atut.

Untuk kebutuhan industri, rumput laut salah satu menjadi bahan baku es krim, pengolahan tekstil, pabrik farmasi, semir sepatu, dan pabrik cat, serta bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, campuran makan ternak dan bahan baku kosmetik.

”Rumput laut dikenal juga sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti batuk, asma dan bronkhitis,” katanya.

Berbagai literatur menyebutkan, budidaya rumput laut tidak bisa dilaksanakan pada semua lokasi. Ada tempat yang memnag bisa digunakan dan ada juga yang tidak cocok. Jika salah menentukan lokasi, maka hasilnya tidak akan maksimal bahkan bisa gagal.

Lokasi budidaya rumput laut yang ideal harus terlindungi dari hempasan gelombang langsung yang kuat dengan kecepatan arus berkisar 0,41-0,45 meter perdetik. Dasar perairan sedikit berlumpur, bercampur dengan pasir karang, pada sudut terendah berkisar 31-35 cm, kecerahan perairan berkisar emapat-enam meter, kondisi suhu perairan berkisar 27,0-30,2 derajat celcius, salinitas 31-35,8 promil dan harus terbebas dari potensi pencemaran lingkungan.

Lokasi untuk budidaya sebaiknya terletak di perairan terlindung oleh karang penghalang (barrierr reef)  yang berfungsi sebagai pemecah gelombang. Karena dengan pecahnya gelombang akan menghasilkan gelembung udara yan mengandung oksigen dan karbondioksida yang penting bagin rumput laut.

Selain itu,

Selain itu,airan juga harus bebas dari pencemaran industri maupun rumah tangga, berkondisi mudah menerapkan budidaya, mudah dijangkau dan harus dekat dengan sumber tenaga kerja.

Kejernihan air sebaiknya tidak kurang dari lima meter dengan jarak pandang horizontal. Air keruh mengandung partikel halus yang berlimpah yang akan menutupi talus tanaman sehingga menghambat penyerapan makanan dan proses fotosintesa.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Banten, Suyitno, mengatakan bahwa pihaknya telah berhasil menjalankan 9 dari 10 indikator yang ditetapkan dalam target pembangunan tahun 2010 yang berimbas pada Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD). Indikator itu, di antaranya, peningkatan jumlah kelompok usaha bersama (KUB) yang ditarget 50 kelompok saja yang mendapat bantuan pertahun, berhasil diwudkan sebanyak 96 kelompok, atau mencapai target 192,0 persen.

Indikator utama lain adalah peningkatan konsumsi ikan yang ditarget 23 kg perkapita berhasil dicapai sebesar 23,5 kg perkapita. Ekspor perikanan yang ditargetkan sebanyak 210 ton dapat tercapai hingga 456,594 ton atau mencapai 217,59 persen dari target yang ditetapkan.

”Peningkatan produksi perikanan yang ditargetkan 145.053,97 ton berhasil diwujudkan hingga 145.876 ton. Peningkatan produksi perikanan ini tidak lepas dari adanya peningkatan produksi budidaya perikanan khususnya rumput laut,” tandas Suyitno.

Juni 18th, 2011 oleh ratuatut


SERANG-Sedia payung sebelum hujan. Ungkapan itu sepertinya pas menggambarkan program Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.

”Ibu berusaha menghidupkan potensi ekonomi laut dan pesisir seperti perikanan tangkap, perikanan budidaya, rumput laut, pariwisata dan sektor turunan lainnya,” tutur Atut seraya menambahkan tahun depan dirinya akan menggenjot program nasional Kawasan Minapolitan pesisir Banten, dari Tanjung Pasir di Kabupaten Tangerang sampai Sawarna di Kabupaten Lebak.

Tahun ini Ratu Atut telah menetapkan lokasi-lokasi pengembangan kawasan perikanan terpadu yang disebut “Minapolitan Banten”, berdasarkan potensinya masing-masing. Lima kawasan tersebut meliputi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu dan kawasan budidaya rumput laut Pontang (Kota Serang), Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan (Kab. Pandeglang), kawasan budidaya kerang Panimbang dan kawasan pangkalan pendaratan ikan (PPI) Binuangeun.

”Lokasi itu merupakan sentra pengembangan perikanan yang diprioritaskan. Mulai 2012 empat kawasan pelabuhan perikanan tersebut akan menjadi kawasan Minapolitan Banten untuk jenis perikanan tangkap. Di samping itu, juga akan dikembangkan perikanan budidaya di wilayah pesisir,” tambah Atut.

Atut meyakini, strategi ini tidak hanya akan memacu kesejahteraan masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, tetapi juga akan mempercepat laju pembangunan dan pemerataan perekonomian Banten.

Kondisi geografis suatu daerah mempunyai peranan penting dalam kemajuan pembangunan. Daerah yang berada di wilayah strategis sangat signifikan dalam mempercepat dan meningkatkan pembangunan ekonomi. Sebagai contoh, Provinsi Banten yang secara geografis bisa dibagi dalam dua wilayah pembangunan, yaitu utara dan selatan. Bagian utara meliputi Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Cilegon. Sedangkan bagian selatan meliputi Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Serang.

Daerah bagian utara relatif lebih maju dibanding daerah selatan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB 2009 di Kabupaten Pandeglang dan Lebak bagian selatan masing-masing mencapai Rp 3,9 miliar dan Rp3,8 miliar. Sedangkan bagian utara seperti Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang mencapai Rp. 17 miliar dan Rp. 27 miliar. Padahal, Kabupaten Lebak dan Pandeglang luasnya 63,89 persen dari luas Banten. Sementara Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang hanya 12.06 persen luas Banten.

Kondisi tersebut disebabkan oleh geografi-strategis daerah bagian utara yang sangat dekat dengan kota metropolis DKI Jakarta. Posisi Tangerang dan Kota Tangerang sebelah utara merupakan hinterland bagi DKI Jakarta. Tangerang lebih melayani Jakarta dibandingkan wilayah selatan. Sebaliknya, bagian selatan seolah menjadi daerah yang berdiri sendiri. Di samping itu, kawasan bagian utara merupakan spill over (tumpahan) pembangunan di DKI Jakarta. Bisa dilihat misalnya, Kota Tangsel yang relatif baru sudah memiliki indikator pembangunan sangat baik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tangsel sudah mencapai 75,1 dan pendapatan per kapita Rp8.459 juta lebih.

”Ketimpangan itulah yang menjadi perhatian ibu untuk segera diatasi. Tentu saja, melalui strategi pembangunan jangka panjang dengan memaksimalkan potensi daerah pesisir. Konsep utamanya adalah pembangunan kelautan dan perikanan yang berbasis kawasan dengan keterpaduan lintas sektor untuk peningkatan taraf hidup masyarakat. Sedangkan prinsipnya adalah pengembangan kewilayahan yang efektif, efisien disertai dukungan lintas sektor,” urai Atut.

Anggaran sektoral pada DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Banten akan difokuskan untuk memberikan input produksi serta sarana dan prasarana pokok. Sedangkan yang lintas sektoral berupa penyediaan prasarana pendukung seperti jalan, saluran irigasi serta dukungan lain yang diperlukan. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar yang dimiliki akan difokuskan pada lokasi “Minapolitan Banten”.

Proyek pengembangan kawasan “Minapolitan Banten” ditargetkan akan menjadi pilot project bagi sektor kelautan dan perikanan di wilayah pesisir lainnya di Banten, serta bagi daerah lainnya di Indonesia.

Karena itu, proyek ini perlu dikawal oleh seluruh elemen masyarakat agar berhasil. Pengembangan kawasan minapolitan harus menjadi prioritas utama yang dikerjakan sungguh-sungguh di masing-masing daerah. Dukungan dan kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program strategis ini, sehingga kesenjangan pembangunan dapat teratasi. (BB)

Juni 18th, 2011 oleh ratuatut


Produksi padi di tahun 2011 ini mengalami peningkatan sebesar 10,67 persen. Pada tahun lalu, panen yang dihasilkan hanya mencapai 18.49,08 ton. Menurut Kepala Bidang Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Banten, Dedi Rusywansyah, mengatakan bahwa hasil panen ini terbilang sangat tinggi sekali dan menghasilkan gabah terbanyak.

“Peningkatan produktifitas di tahun ini membawa Banten pada peringkat ke-9 nasional penghasil gabah terbanyak,” katanya.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran petani dan penyuluh pertanian dalam melaksanakan program pemerintahan Ratu Atut Chosiyah melalui Distanak yang diberikan ke petani, seperti program sekolah lapang tani (SLPT).

Distanak mencatat jumlah kelompok tani (Poktan) yang produktif sebanyak 3.200 poktan se-Banten.

Poktan itu sangat menentukan sekali terhadap produksi padi di Banten. Sebab tahun ini pun mereka mampu meningkatkan hasil panennya. Saya berharap produksi padi di Banten terus meningkat secara signifikan. Tentunya hal ini harus didorong dengan bermacam program yang bisa menunjang petani untuk meningkatkan hasil padi,” tuturnya.

Selain itu, pemerintah selama ini memang telah fokus meningkatkan produksi beras dengan memperbaiki infrastruktur yang diperlukan seperti meperbaiki irigasi dan lain-lain.

Pada Februari lalu, Gubernur Banten, Hj.Ratu Atut Chosiyah telah mengintruksikan kepada 2 SKPD terkait saluran irigasi yang ada di Banten. Menurutnya, saluran irigasi perlu penanganan serius untuk diinventarisasi, dievaluasi dan menjadi prioritas perbaikan atau direhabilitasi. Sebab, keberadaan irigasi penting untuk menunjang target peningkatan produksi beras di Banten.

“Kami ingin menjadikan Provinsi Banten sebagai wilayah agraris yang mampu meningkatkan swasembada pangan sekaligus menjadi pemberi kontributor penting bagi sektor pertanian nasional”, tegas Ratu Atut.

Pemerintah Provinsi Banten pada tahun 2011 menargetkan produksi beras di Banten mencapai 2,89 juta ton. Jumlah itu akan membuat surplus beras pun semakin meningkat, karena pada tahun sebelumnya beras di Banten mengalami surplus beras mencapai 87 ribu ton. Di tahun 2010, Banten berhasil mencapai hasil produksi beras hingga 2,48 juta ton dan memberikan kontribusi sebesar 3,6 persen terhadap produksi beras nasional.

“Kami optimis, melalui kerja keras dan pemanfaatan teknologi pertanian, target itu bisa terlewati. Makanya pada tahun ini, kami targetkan minimal ada peningkatan produksi beras hingga 5 persen” pungkasnya.

Juni 18th, 2011 oleh ratuatut

\"\"

DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Banten menyatakan siap mendukung pencalonan kembali Ratu Atut Chosiyah dalam pemilihan gubernur (Pilgub) Banten 2011. Dari penjaringan bakal calon gubernur (Balongub) yang dilakukan DPW PKB, hanya Atut yang mendaftar. Sabtu (18/16), DPW PKB menggelar penyampaian visi dan misi Balongub yang akan dihadiri Atut.

Sekretaris DPW PKB Banten, Ahmad Fauzi, mengatakan bahwa dalam pemaparan visi dan misi tersebut akan dihadir leh seluruh kader PKB, mulai dari perwakilan DPP PKB, DPW hingga PAC. Bahkan seluruh organisasi sayap milik PKB juga akan dihadirkan.

“Di penyampaian visi dan misi itu, nantinya seluruh kader akan berdialog dengan incumbent tentang program apa saja yang akan dilakukan jika terpilih kelak,” ujar Fauzi.

Peluang Atut akan diusung PKB, lanjut Fauzi, sangatlah besar. Karena selain sudah memenuhi administrasi penjaringan, hanya Atut yang mendaftar sebagai Balongub dari PKB. Usai penyampaian visi dan misi, pihaknya akan menggelar Musyawarah Kebangkitan (Muskit). Di  Muskit tersebut akan menghasilkan rekomendasi untuk diserahkan kepada DPP.

Juni 10th, 2011 oleh ratuatut

Serpong- Popularitas dan elektabilitas incumbent Hj Ratu Atut Chosiya tak terkejar dalam pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten 2011. Hal itu dikatakan oleh Sejumlah politisi dan pengamat politik di Banten menjelang pelaksanaan Pilgub, beberapa bulan lagi. Karenanya, perbincangan yang ramai saat ini berkutat di seputar sosok tepat yang akan mendimpingi Atut lima tahun kedepan.

Salah satunya dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Partai Keadilan dan Persatuan (PKPI Banten, H Robert Usman. Menurutnya, dalam setiap perbincangan tentang bursa calon Gubernur di internal partai maupun dengan partai politik lain, sosok Ratu Atut seakan sudah tak tersaingi. Walaupun pertainya belum menentukan sikap siapa yang akan diusung, tapi pihaknya sudah mengakui bahwa popularitas dan elektabilitas incumbent belum ada yang bisa mengalahkan. Sehingga yang saati ini banyak dibicarakan adalah pertarungan sosok yang layak mendampingi Atut.

“Yang jelas, sikap PKPI dalam menentukan dukungan pasangan Cagup dan Cawagup akan berpikir rasional dan mengikuti calon yang benar-benar kuat,”, kata Robert kepada Tangerang Ekspers kemarin.

Dalam penilaian Robert, ada beberapa nama yang kemungkinan bias berpasangan dengan Atut. Diataranya Wakil gubernur Banten Masduki akan kembali dipaketkan dalam Pilgup 2011. Sebab, kata Robert, sosok Masduki sangat kecil sekali resistensinya. Selain itu Masduki tergolong pejabat yang bersih dan komunikasi antara Atut dengan Masduki cukup harmonis.

Selain itu, bila pasangan Atut dan Masduki kembali dipaketkan, ini akan menjalin keharmonisan partai koalisi pada Pilgup 2006 lalu.

Robert juga tidak menamping kemungkinan Atut akan berdampingan dengan Wahidin Halim. Sebab, akan semakin menjaga kondusifitas Pilgub.

“Yang jelas, kalau saja Atut berdampngan dengan Wahidin Halim, Pilgup Banten 2011 akan berjalan kondusif dan tanpa mengarahkan dana yang cukup besar,” kata Robert.

Senada dikatakan pengamat politik Fisip UIN Syarif Hidayatullah, Muhammad Zaki Mubarok. Menurut Zaki, saat ini yang banyak terlihat spanduk-spanduk yang hanya ingin menjadi pendamping Atut. Karena belum ada tokoh yang mampu menyaingi Atut di Pilgub Banten. Sebab untuk maju sebagai kandidat di Pilgub Banten membutuhkan modal cukup besar, baik materi maupun sosial.

“Sehingga popularitas dan elektabilitas Atut, belum ada yang bisa menyaingi. Sehingga banyak orang yang hanya berlomba-lomba menjadi pendamping Atut,” kata M Zaki. (ss)